"Gausah takut, kan sama mama" Di bandara menuju Palu, dua ribu dua puluh. "Ma, takut" kata si adek. "Gapapa. Ngapain takut? Kan ada mama" Aku juga kangen. Bisa takut. Dan lapor ke mama. "Ma, takut. Kayanya aku ga berhasil" Dalam hati. Kita jawab sendiri. Kalo mama bakal bilang "Salahmu. dikasih tahu gak nurut. Ngrepoti orang tua ae" Kadang, kita tanya. Dalam hati. "Apa mama masih sesayang itu sama aku?" Andai kita masih bisa bilang "ma, aku takut" ke mama, daripada ke twitter. daripada ke instagram. daripada ke temen - temen. Daripada ke "sini. ceritain aja. ada aku kok" nyatanya, gakada siapapun yang bisa gantiin apa yang gabisa diganti. Andai kita semua biaa menekan tombol restore to default (ma, aku takut) Apa mama bersedia ada walau sudah tiada? Kadang aku memohon, agar aku yang tiada duluan. Nyatanya aku gamau pisah. Gapernah siap pisah. Aku masih pengen ngomong ...
Salahmu. Meninggalkan aku terlalu cepat. Meninggalka aku saat sedang berproses menjadi yang tepat. Mengabaikan, dan jatuh cinta dengan yang bukan aku. Salahmu, Menolak ku dan menjadikanku semakin (candu/benci) padamu. Salahmu, Memegang tanganku tanpa seizinku. Bilang i love you tanpa ada aku yang mulai dulu. Aku benci menyalahkan diri sendiri, tuhan apalagi (maha benar/tak bisa disalahkan) Jadi, Salahmu. Terlalu pilih - pilih teman. Janji "februari kita ketemu ya?" Tapi lebih memilih aman bersama kesunyian. Tanpa teman. Tanpa aku. Salahmu. Mau aku ajak ketemu, Salahmu. Jatuh cinta lebih dulu, Salahmu, Tidak mau denganku (dua kali) Salahmu. Sekarang, aku ada di sampingmu. Jadi yang sangat sayang --ma qm, mwah
Sebelum saya memulai tulisan ini, izinkan saya berterimakasih kepada insan yang dengan sengaja menyuruh saya menangis. Patah hati di kota ibu pertiwi "4 tahunya lama ya" kata dia sembari menggigiti kuku yang sengaja mencuil. "Apa ini terencana?" Gumamnya tak yakin aku telah merencanakan sesuatu. "Yang pasti, aku hanya ingin bersamamu selamanya" jawabku sambil menghentikan gigitan kukunya. Aku raih tangan pucatnya, aku sisir rambutnya dengan jemari hitamku. "Jangan pegang rambutku", kata dia kesal. "Rambutku masih basah, dan kamu jauh" "Sejauh mana kamu dengan langit?" "Lebih jauh kamu" Jakarta, bukan kota penuh dusta. Disini banyak orang jawa, sopan dan santun dari jombang sampai yang madiun. Aku mencoba menyibukan diri. Daripada ditelan bosan dan putus asa, busway adalah jalan tunggu lobby sesaat menuju kebebasan. Bebas bagian mana? Wong tracknya sudah ditentukan, kamu tuh lu...
Komentar
Posting Komentar